HARAPAN KAMI TERHADAP AIR BERSIH
Desa Makarti Nauli
Tentu
bagi kita, masyarakat di kota pada umumnya bukan sesuatu yang sulit dan perlu
dipusingkan untuk mendapatkan air bersih yang layak minum. Bahkan hampir setiap
rumah mempunyai sumur gayung ataupun sumur pompa, yang dapat mengambil sumber
air bersih dibawah tanah. Dan saya paham memang ada sebagian masyarakat yang
tidak mempunyai kedua hal tersebut, tapi penyediaan air bersih yang tentunya
layak konsumsi saya kira sangat mudah didapat di kota-kota sekarang ini.
Bahkan
yang cukup membuat heran ialah kondisi sumber air bersih yang banyak tersedia
justru tidak dibarengi dengan pemeliharaan (maintenence) yang cukup baik
dilakukan baik dari masyarakat maupun pemerintah setempah. Apa buktinya???
Cukup
melihat penampakan sungai saat ini, yang semestinya menjadi outlet bagi kawasan
sekitarnya untuk dapat nantinya dibuat menuju muara tapi malah menjadi tempat
sampah juga. Entah kurangnya sosialisasi dan pengetahuan tersebut atau memang
tidak adanya sanksi tegas yang diterapkan, yang pasti tidak ada satu pihak pun
yang mau disalahkan.
Tapi
bukan itu yang menjadi perihal penting yang akan saya ceritakan. Mari kita
beralih tentang saudara kita dibagian timur indonesia yang tentunya 180 derajat
berbeda keadaannya dengan kita. Yap, desa Makarti nauli, sebuah desa yang
terletak di kecamatan kolang, kabupaten tapanuli tengah,provinsi sumutera
utara. Kecamatan kolang sendiri memiliki luas daerah sebesar 400,65 km2,
sementara desa makarti nauli memiliki luas sebesar 8,08 km2 atau hanya
menempati 2,02 % dari luas keseluruhan kecamatan.
Sebagai
gambaran desa makarti nauli merupakan daerah yang sebagian besar lahan gambut
sehingga tentu memiliki tekstur tanah yang lunak dan berlumpur. Salah satu desa
yang terkenal dengan penghasil karet dan sawit ini, memiliki luas daerah yang bisa
dibilang kecil namun bukan berarti pula memiliki permasalahan yang kecil,
justru permasalahan yang dihadapi cukup kompleks.
Mungkin
sebagian orang menganggap emas sesuatu yang sangat mahal dan berharga, namun
saudara kita di desa makarti nauli menganggap air bersih yang layak konsumsi
merupakan sesuatu yang berharga yang tentunya setara dengan keindahan emas.
Bagaimana
tidak, selama 21 tahun puluhan keluarga di desa makarti nauli tidak dapat menikmati
air bersih dan segar karena memang tidak layaknya sumber air terdekat di desa
mereka. Selama ini warga setempat hanya memanfaatkan air hujan dan air gambut
untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Adapun sumber air yang ada, berupa sumur
yang airnya berwarna kemerahan dan tidak dapat dikonsumsi. Sehingga warga hanya
memanfaatkan air tersebut hanya untuk mandi dan mencuci pakaiaan saja.
Pemenuhan
terhadap kebutuhan sehari-hari menjadi prioritas bagi warga desa makarti nauli.
Bahkan untuk pemenuhan terhadap air bersih layak minum, warga harus
mengambilnya dengan jirigen ke desa tetangga yang harus ditempuh dengan berjalan
kaki jarak 10 kilometer atau sekitar 1 jam lebih menggunakan sepeda motor.
Setelah
sampai disana pun warga harus mengantri dengan warga lain yang akan mengambil
air juga, karena memang hanya sebuah pipa kecil yang hanya mengalirkan air
dengan debit yang kecil. Apabila musim hujan 1 jirigen dapat terisi penuh dalam
waktu 30 menit namun bila musim kemarau dapat mencapai 1 jam 30 menit, kebayang
bukan lamanya untuk 1 jirigen penuhnya. Dengan banyaknya antrian warga yang
mengantri, tak jarang warga makarti nauli baru dapat mengisi jirigen mereka
sampai larut malam.
Tentu
bukan tanpa alasan saya menceritakan hal ini kepada publik, selain untuk
memberikan gambaran pada Anda semua bahwa masih banyak saudara kita yang
kekurangan tentunya dan dapat meningkatkan rasa moral Anda semua untuk dapat
mengabdikan diri pada Bangsa.




Komentar
Posting Komentar