Langsung ke konten utama

Penerapan Rainfall Harvesting & Eco-Drainage

🌧️ Dari Ancaman Jadi Berkah: Inovasi Eco-Drainage dan Rainfall Harvesting untuk Kota Masa Depan

Setiap kali hujan turun deras, banyak dari kita langsung berpikir: “Duh, banjir lagi nih!” Padahal, di balik derasnya air hujan, tersimpan potensi luar biasa yang sering kali kita abaikan. Yup, air hujan bukan sekadar "masalah" yang harus segera dibuang lewat saluran drainase. Justru sebaliknya, air hujan bisa jadi aset emas kalau dikelola dengan cara yang tepat.

Nah, di sinilah konsep eco-drainage alias drainase ramah lingkungan dan rainfall harvesting (pemanenan air hujan) hadir sebagai jawaban. Konsep ini mengajak kita untuk berpikir ulang: bagaimana kalau kita tidak membuang air hujan, tapi memanfaatkannya semaksimal mungkin? Gak cuma mengurangi risiko banjir, tapi juga bisa menambah cadangan air tanah, mempercantik lingkungan, hingga mendukung pertanian urban seperti hidroponik!

Dengan berbagai metode seperti sumur resapan, kolam retensi, biopori, hingga embung, konsep eco-drainage membuka peluang baru dalam menciptakan lingkungan yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Bonusnya? Lingkungan kita jadi lebih hijau, lebih indah, dan pastinya lebih siap menghadapi perubahan iklim.

Melalui tulisan ini, kita akan kupas tuntas bagaimana sistem drainase yang sebelumnya cuma dianggap sebagai “saluran pembuangan” bisa bertransformasi jadi engineer of sustainability yang bukan cuma menyelamatkan lingkungan, tapi juga memberi nilai tambah secara sosial, ekologis, dan estetika.

Sebenernya apa aja sih hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan konep eco-drainage ini??!!?

So, siap menyambut hujan dengan cara yang lebih bijak dan inovatif? 🌱💧

Air Hujan

Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air menyebutkan bahwa air merupakan semua air yang terdapat pada, di atas, maupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian air permukaan, air hujan, dan air laut yang berada di darat. Air yang berada di bumi berasal dari sumber-sumber yang berbeda, 5 sumber air yang dapat digunakan, adalah:

Air Laut                                    Air Hujan

Air Permukaan                        Air Tanah                        Mata Air


Air hujan merupakan air yang jatuh ke bumi akibat adanya siklus hidrologi yang terjadi secara teus menerus. Hujan merupakan sebuah presipitasi berwujud cairan, berbeda dengan presipitasi non-cair seperti saljubatu es dan slit. Di Bumi, hujan adalah proses kondensasi uap air di atmosfer menjadi butir air yang cukup berat untuk jatuh dan biasanya tiba di daratan. Dua proses yang mungkin terjadi bersamaan dapat mendorong udara semakin jenuh menjelang hujan, yaitu pendinginan udara atau penambahan uap air ke udara. Terdapat beberapa macam air hujan berdasarkan ukuran butirnya, yaitu

  • Hujan gerimis (drizzle), diameter butirannya kurang dari 0,5 mm.
  • Hujan salju (snow), terdiri atas kristal-kristal es yang temperatur udaranya berada di bawah titik beku.
  • Hujan batu es, merupakan curahan batu es yang turun di dalam cuaca panas dari awan yang temperaturnya di bawah titik beku.
  • Hujan deras (rain), yaitu curahan air yang turun dari awan yang temperaturnya di atas titik beku dan diameter butirannya kurang lebih 7 mm

Gambar Siklus Hidrologi


Limpasan

Limpasan merupakan bagian curah hujan setelah dikurangi dengan infiltrasi dan kehilangan air lainnya. Limpasan permukaan ini berasal dari over land flow yang segera masuk kedalam alur sungai. Aliran ini merupakan komponen aliran banjir yang utama. Limpasan terjadi apabila intensitas hujan yang jatuh di suatu DAS melebihi kapasitas infiltrasi,setelah laju infiltrsi terpenuhi air akan mengisi cekungan-cekungan pada permukaan tanah yang kosong. Setelah cekungan-cekungan tersebut penuh,selanjutnya air akan mengalir (melimpas) diatas permukaan tanah. Limpasan merupakan unsur penting dalam siklus air dan salah satu penyebab erosi.


Gambar Contoh Limpasan Permukaan

Sumber: http://www.webpages.uidaho.edu 

Drainase

Menurut Dr. Ir. Suripin, M. Eng. (2004; 7) drainase mempunyai arti mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air. Secara umum, drainase didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Drainase juga diartikan sebagai suatu cara pembuangan kelebihan air yang tidak diinginkan pada suatu daerah, serta cara-cara penangggulangan akibat yang ditimbulkan oleh kelebihan air tersebut. Oleh sebab itu, drainase secara jelas memiliki beberapa fungsi, yaitu:

  • Untuk mengurangi kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehigga lahan dapat difungsikan secara optimal.
  • Sebagai pengendali air kepermukaan dengan tindakan untuk memperbaiki daerah becek, genangan air/banjir.
  • Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal.
  • Mengendalikan erosi tanah, kerusakan jalan dan bangunan yang ada.
  • Mengendalikan air hujan yang berlebihan sehinga tidak terjadi bencana banjir.

Gambar Saluran Drainase pada Umumnya di Indonesia

Sumber: http://www.nawasis.com 

Drainase Ramah Lingkungan (Eco-Drainage)

Pada dasarnya di Indonesia menggunakan drainase konvensional dimana menggunakan dasaran bahwa air hujan dan limpasan permukaan merupakan ancaman yang dapat menimbulkan banjir dan genangan sehingga air hujan dan limpaan permukaan harus secepat-cepatnya dibuang ke badan air terdekat agar tidak menimbulkan banjir/genangan. Drainase ramah lingkungan merupakan drainese yang memiliki dasaran yaitu air hujan atau genangan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dan menyerapkan sebesar-besarnya ke dalam tanah. Air yang berlebihan saat musim hujan sebisa mungkin dikelola dengan berbagai metode seperti detensi, retensi, dan infiltrasi sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan contohnya digunakan kembali, sebagai nilai estetika, dan menambah air tanah. Terdapat beberapa keuntungan drainase ramah lingkungan, yaitu:

Air hujan diolah untuk dimanfaatkan kembali

Pengisian kembali air tanah

Meningkatkan kualitas ekologi

Meningkatkan nilai estetika pada lingkungan

Di Indonesia terdapat beberapa metode yang digunakan untuk menerapkan metode drainase ramah lingkungan, yaitu metode kolam konservasi, metode sumur resapan, metode river side polder, metode pengembangan areal perlindungan air tanah (ground water protection area) dan lain sebagainya.

Detensi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) detensi merupakan penahanan sehingga jika dikaitkan dengan air hujan, detensi adalah tampungan sementara dari limpasan air hujan pada bak di bawah tanah, kolam, cekungan, atau lembah.  Kolam detensi bukanlah kolam resapan, dia hanya bersifat menahan (detensi). Berbeda dengan kolam penampungan air hujan bersifat menyimpan (retensi). Bedanya dengan sumur resapan yang harus kering kalau tidak hujan, kolam detensi harus berisi dan memiliki biota tetap didalamnya. Kolam ini bisa berbentuk kolam ikan, kolam teratai, yang kapasitasnya sekitar 50% volumenya, saat hujan bisa meningkat menjadi 70-80% kapasitas, yang memiliki semacam pintu air agar volume bisa kembali ke 50%.

Gambar Kolam Detensi

Sumber: http://ahmaddamopolii.info


Retensi

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), retensi adalah penyimpanan sehingga retensi air hujan merupakan tempat penyimpanan air hujan untuk manfaat-manfaat tertentu dalam bentuk bak, kolam, cekungan, dan lain sebagainya. Kolam retensi memiliki fungsi untuk menyimpan air hujan langsung dan aliran dari sistem untuk diresapkan ke dalam tanah. Sehingga kolam retensi ini perlu ditempatkan pada bagian yang terendah dari lahan. Jumlah, volume, luas dan kedalaman kolam ini sangat tergantung dari berapa lahan yang dialih fungsikan menjadi kawasan permukiman.

Fungsi lain dari kolam retensi adalah sebagai pengendali banjir dan penyalur air, dan juga pendukung waduk/bendungan. Kolam retensi dibangun untuk mempermudah pemeliharaan dan penjernihan air waduk. karena jauh lebih mudah dan murah menjernihkan air di kolam retensi yang kecil sebelum dialirkan ke waduk dibanding dengan menguras/menjernihkan air waduk itu sendiri.

Gambar Kolam Retensi Tipe di Samping Badan Sungai

Sumber: https://rupaka.wordpress.com

Infiltrasi

Infiltrasi didefinisikan sebagai proses masuknya air ke dalam tanah melalui permukaan tanah, atau proses meresapnya air dari permukaan tanah melalui pori-pori tanah. Infiltrasi ialah air hujan atau air irigasi yang melalui permukaan tanah dan membasahi bagian tanah yang relative kering merupakan salah satu proses alami dasar. Dari siklus hidrologi, jelas bahwa air hujan yang jatuh di permukaan tanah sebagian akan meresap ke dalam tanah, sabagian akan kembali lagi kelaut, danau maupun sungai serta sisanya merupakan over land flow.

Gambar Ilustrasi Infiltrasi Pada Jenis-jenis Tanah

Sumber: https://bebasbanjir2025.wordpress.com

Macam – Macam Metode Drainase Ramah Lingkungan

Pengolahan air hujan dapat dilakukan dengan beberapa metode di atas, sehingga dalam menerapkan sistem drainase ramah lingkungan dengan dasar mengolah air hujan, terdapat beberapa metode yang sering digunakan yaitu:

  • Metode kolam konservasi

Metode kolam konservasi air hujan atau kolam tampungan air hujan merupakan kolam yang digunakan untuk memanen air hujan yang turun dengan menggunakan media-media tertentu. Pada dasarnya kolam konservasi ini menganut metode detensi dan retensi, dimana air hujan yang berada pada kolam konservasi dapat disimpan maupun ditampung semestara untuk dialirkan ke tempat tujuan tertentu.

Gambar Kolam Konservasi (Kolam Tampungan Air)

Sumber: https://bebasbanjir2025.wordpress.com


  • Metode Sumur Resapan

Sumur resapan adalah salah satu rekayasa teknik konservasi air berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai tempat menampung air hujan yang jatuh di atas atap rumah atau daerah kedap air dan meresapkannya ke dalam tanah. Sumur resapan berfungsi memberikan imbuhan air secara buatan dengan cara menginjeksikan air hujan ke dalam tanah. Sumur resapan memiliki beberapa keunggulan untuk lingkungan, yaitu:

·         Sumur Resapan Air Hujan (SRAH) dapat mengatasi permasalahan air hujan yang jatuh di kawasan pemukiman serta dapat membantu melestarikan atau menyeimbangkan tanah.

·         Menambah potensi air tanah

·         Mengurangi meluasnya penyusupan/interusi air laut ke daratan

·         Mengurangi meluasnya genangan banjir

·         Mengurangi timbulnya penurunan air tanah

·         Melestarikan dan menyelamatkan sumber daya air untuk jangka panjang

Terdapat fitur san bahan sumur resapan air huujan, yaitu:

·         Kedalaman air tanah minimum 1,50 m pada musim hujan

·         Permeabilitasi tanah

•    Struktur tanah yang dapat digunakan harus mempunyai nilai permeabilitasi tanah kurang dari 2,0 cm/jam

Gambar Sumur Resapan

Sumber: http://ahmaddamopolii.info


  • Metode Biopori

Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Biopori merupakan suatu lubang dengan diameter ± 3” berkedalaman antara 80 – 100 cm yang berguna untuk lubang resapan air hujan, biopori juga bisa difungsikan sebagai lubang kompos dari bahan sampah daun kering, maupun sampah basah. Beberapa manfaat dari biopori adalah sebagai berikut:

·         Memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga menambah air tanah.

·         Membuat kompos alami dari sampah organik daripada dibakar.

·         Mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit.

·         Mengurangi resiko banjir di musim hujan.

  •         Maksimalisasi peran dan aktivitas flora dan fauna tanah.

Gambar Lubang Resapan Biopori

Sumber: http://ahmaddamopolii.info

Teknik Embung (Kolam Penampungan)

Embung adalah kolam buatan sebagai penampung air hujan dan aliran permukaan. Embung sebaiknya dibuat pada suatu cekungan di dalam daerah aliran sungai (DAS) mikro. Selama musim hujan, embung akan terisi oleh air aliran permukaan dan rembesan air di dalam lapisan tanah yang berasal dari tampungan mikro di bagian atas/hulunya. Air yang tertampung dapat digunakan untuk menyiram tanaman, keperluan rumah tangga, dan minuman ternak selama musim kemarau.


Hidroponik

Hidroponik berdasarkan asal katanya memiliki pengertian yaitu berasal dari kata Yunani yaitu hydro yang berarti air dan ponos yang artinya daya. Hidroponik juga dikenal sebagai soilless culture atau budidaya tanaman tanpa tanah. Jadi hidroponik berarti budidaya tanaman yang memanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam atau soilless. Sehingga dapat dipahami bahwa hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. 

Gambar Budidaya Tanaman Menggunakan Hidroponik
Sumber: http://belajarberkebun.com


Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan tanah. Hidroponik menggunakan air yang lebih efisien. Terdapat beberapa jenis metode penanaman hidroponik, antara lain:


Hidroponik Kultur Agregat

Teknik penanaman hidroponik ini menggunakan media pasir, kerikil, sekam padi, arang dan bahan-bahan yang sudah disterilkan.

Gambar  Hidroponik Kultur Agregat
Sumber: http://www.faunadanflora.com


Hidroponik Kultur Air

Teknik penanaman hidroponik yang satu ini menggunakan larutan hara mikro dan makro. Dimana penanaman tanaman dilakukan dengan pada sebuah media dan larutan tersebut diletakkan dibagian dasar. Tujuannya yaitu agar akar tanaman dapat menyerap dan menyentuh larutan yang kaya akan nutrisi tersebut.

Gambar Hidroponik Kultur Air

Sumber: http://www.faunadanflora.com


Hydroponic Nutrient Film Technique

Teknik penanaman hidroponik ini dilakukan pada selokan yang sempit dan panjang. Media tanamnya dapat dibuat dari lempengan logam yang tipis dan juga anti karat.

Gambar Hydroponic Nutrient Film Technique

Sumber: https://howtogrowmarijuana.com


Rain Barrel

Pada sistem drainase ramah lingkungan, air hujan memiliki potensi untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk beberapa tujuan seperti penggunaan kembali dan nilai etetika. Di Indonesia sebagian besar masih menggunakan drainase konvensional sehingga apabila terjadi musim hujan yang pada dasarnya Indonesia merupakan Negara tropis membuat banyak air hujan yang tidak dimanfaatkan namun dibuang secepat mungkin dan seringkali menyebabkan masalah seperi banjir dan genangan.

Untuk menerapkan sistem drainase yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan air hujan semaksimal mungkin, terdapat salah satu metode yaitu pemanenan air hujan. Pemanenan air hujan adalah metode sederhana dalam pengembangan sumber air yang memberikan keuntungan-keuntungan seperti penyedia sumber air untuk kebutuhan rumah tangga dan juga mengurangi bahaya banjir yang diakibatkan intensitas hujan yang tinggi selama musim penghujan. Salah satu cara pemanenan air hujan adalah dengan menggunakan rain barrels. Rain barrel merupakan alat penampung air hujan sehingga air hujan tersebut dapat dimanfaatkan kembali seperti untuk menyiram tanaman dan/atau untuk disalurkan kembali ke tempat yang diinginkan.

Gambar Rain Barrel

Sumber: https://www.wayfair.com


Garden Pond

Salah satu manfaat yang dapat digunakan dalam sistem drainase ramah lingkungan adalah meningkatkan nilai estetika pada lingkungan. Hal tersebut menjadi dasaran bahwa air hujan dapat digunakan untuk membuat garden pond. Garden pond adalah kolam pada taman yang dapat memperindah halaman rumah. Garden pond merupakan salah satu media yang memanfaatkan air hujan sehingga air hujan tidak terbuat secara sia-sia melainkan dijadikan salah satu nilai estetika pada lingkungan.

Gambar Garden pond

Sumber: http:// www.telegraph.co.uk





Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAPAN KAMI TERHADAP AIR BERSIH

HARAPAN KAMI TERHADAP AIR BERSIH Desa Makarti Nauli Tentu bagi kita, masyarakat di kota pada umumnya bukan sesuatu yang sulit dan perlu dipusingkan untuk mendapatkan air bersih yang layak minum. Bahkan hampir setiap rumah mempunyai sumur gayung ataupun sumur pompa, yang dapat mengambil sumber air bersih dibawah tanah. Dan saya paham memang ada sebagian masyarakat yang tidak mempunyai kedua hal tersebut, tapi penyediaan air bersih yang tentunya layak konsumsi saya kira sangat mudah didapat di kota-kota sekarang ini. Bahkan yang cukup membuat heran ialah kondisi sumber air bersih yang banyak tersedia justru tidak dibarengi dengan pemeliharaan (maintenence) yang cukup baik dilakukan baik dari masyarakat maupun pemerintah setempah. Apa buktinya??? Cukup melihat penampakan sungai saat ini, yang semestinya menjadi outlet bagi kawasan sekitarnya untuk dapat nantinya dibuat menuju muara tapi malah menjadi tempat sampah juga. Entah kurangnya sosialisasi dan pengetahuan tersebut ata...